Skip navigation

Category Archives: Uncategorized

"Putra Sang Fajar"

“Jikalau ingin menjadi satu bangsa yang besar, ingin menjadi bangsa
yang mempunyai kehendak untuk bekerja, perlu pula mempunyai
imagination!”

Kutipan Pidato Bung Karno di Semarang, 29 Juli 1956

“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi, satu orang pemuda dapat mengubah dunia.”

Dikutip dari Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia karya Cindy Adams

Diawali dengan “oh”, kemudian berlanjut dengan “wow!”, dan diakhiri dengan “hmm…?”

“Coba perhatiin! Korea menginvasi kita!” Itu candaan yang diutarakan seorang teman dari Daegu, Korea Selatan saat si Sayur bertanya-tanya mengenai hidup di sana. 2002 adalah awal mula seorang Sayur menyaksikan sepak terjang negara yang menjadi salah satu dari 4 Macan Asia itu. Diawali dari seorang Park Ji Sung, World Cup Korea Selatan-Jepang, dan beasiswa S-1. Beberapa tahun kemudian, drama dan perfilman Korea mulai berdatangan mencoba bersaing dengan time slot sinetron lokal. Ada yang udah nonton Sex is Zero (dan sekuelnya), A Tale of Two Sisters, Taegukgi, The Red Shoes? Itu film-film yg menarik. Tapi, mungkin semua tahu Full House ya? Ya, itu adalah satu dari beberapa awal Korean Wave di Indonesia.

Ya, di tahun 2007 lah booming budaya Korea dimulai di Indonesia. Bisa dibilang Full House yang menjadi pemicu nya, kenapa? Sayur tidak tahu, kenapa harus tahu? haha. Setelah mendrag sebuah link; klik kanan pada mouse; dan memilih “search google for Full House…” maka Sayur punya satu kesimpulan (pribadi): Song Hye Kyo cantik juga…eh bukan! err..maksudnya, entertainment Korea go international!

2008 – sekarang, di mulai lah rentetan ledakan (agak lebay, maaf) “fan-base” dari produk-produk kebudayaan Korea yang mulai menjamur (yang di dominasi dunia entertainment), khususnya di kalangan remaja. Di mulai dari para fans aktor/aktris Korea, pelawak (gag-man),  hingga yang sekarang menjamur idol group.

Kuis Trivia!

1. Girls-group dari Korea Selatan mana yang beranggotakan 9 perempuan?

2. Ada berapakah anggota Super Junior?

3. Kalo grup yang baru manggung di acaranya Ericsson di Jakarta?

Mungkin 4 dari 10 remaja Indonesia tahu jawabannya…apa? 5 dari 10? Mungkin 6 dari 10? Lebih? Sayangnya belum ada yang menghitung ini (setahu si Sayur). Walaupun begitu, entah kenapa terdapat perbedaan antara kelompok penikmat kultur Jepang/China dengan mereka penikmat kultur Korea Selatan dari segi popculture. Contoh: Sayur menemukan sebuah kelompok fans salah satu grup idol dari Korea Selatan sering bersitegang dengan kelompok fans idol lainnya. Apapun alasannya, biasanya Sayur tidak pernah melihat ini pada pencinta kultur Jepang/Cina di Indonesia ;D

Korean Wave tidak berlangsung sampai sini saja. Beberapa EO besar dunia permusikan Indonesia mulai berencana mendatangkan band/idol group dari negeri ginseng itu. Bahkan jumlah pertukaran pelajar dan tenaga kerja antara Indonesia dan Korea Selatan meningkat secara besar-besaran, apa ini efek tidak langsung? Bahkan terdengar isu bahwa beberapa musisi lokal sudah mulai “membajak” dan membajak trend ini, mulai dari artwork hingga konsep. Apa? Oh, kalo barang-barang Korea di ITC/glodok sih udah lama masuk sini haha.

Jadi akan sampai dimana “invasi” ini berlangsung? Comment?

Akhirnya, setelah lebih dari 3 bulan hiatus dari blog memblog, Si Sayur sign in lagi di sini.

Untuk come-back post pertama, Sayur berpikir posting yg kayaknya g simpel-simpel aja (otak lagi kurang mampu beride, terlalu lama “melauk” haha).  Pertama, mungkin sedikit share tentang 3 bulan terakhir setelah last post di blog. Well, terakhir Sayur nulis di sini cuma buat  refresh otak selagi bab akhir skripsi. Yup! akhirnya April 2010 kemarin wisuda juga setelah 3 tahun (lewat dikit) kuliah di SBM-ITB. Sempat terpikir, akhirnya punya nama belakang S.Mn (namanya jadi AnakSayur S.Mn). Cuma buat info, blog ini awalnya ada buat tugas salah satu mata kuliah disana yang akhirnya keterusan (thanks to Mr. Agus Nggermanto)

Seperti kebanyakan sarjana baru, setelah wisuda  yang terpikir adalah…ga ada? (jujur!) hahaha. Bukan maksudnya bener-bener ga ada, tapi lebih ke dibawa santai, ga ada rencana yg harus diikutin secara spesifik. Pilihan konservatif selalu hanya dua untuk seorang sarjana berusia 21 di abad 21, kerja atau lanjut kuliah. Tapi Sayur punya satu pilihan lagi, yg mungkin sekarang lg nge-trend…tapi rahasia dulu, dan yang jelas bukan kawin! (hayoo jangan mikir kawin terus hahaha)

Ada yang mau nebak?

Singkat cerita (udah singkat padahal), Si Sayur ini akhirnya diterima program beasiswa untuk melanjutkan S-2 di Korea Selatan. Kenapa Korea Selatan? Simpelnya, karena keterimanya di sana hahaha (rencana sih emang mau berguru di Asia). Banyak pertanyaan senada dengan “Kenapa gak kerja dulu?” yg kebanyakan dijawab dengan “Kenapa harus kerja dulu?”. Jadi aktivitas sekarang kebanyakan ikut kelas bahasa untuk persiapan berangkat kesana (masih beberapa bulan lagi berangkatnya haha).

Ada yang mau berangkat juga ke Korea Selatan? Ato ada yg udah disana?

Oya thx juga buat bung IndomieJunkie (baru baca “Labirin Musafir”nya, nice) dan bung ShadowsInTheWall yg udah ngejitak si Sayur buat ngeblog lagi, nih akhirnya udah ngepost lagi. Untuk para blogger di luar sana, Sayur mengucapkan: Halo!

Hello all, it’s me. Back again. Literally.

Mihaly menyatakan ada 10 sikap paradok yang dimiliki oleh orang-orang Kreatif. Tolong analisis dan berikan komentar pribadi Anda terhadap 10 sikap paradok tersebut.

Berikut ini adalah 10 sikap paradok yang dinyatakan oleh Mihaly:

1. Creative people have a great deal of physical energy, but they’re also often quiet and at rest.

2. Creative people tend to be smart yet naive at the same time.

3. Creative people combine playfulness and discipline, or responsibility and irresponsibility.

4. Creative people alternate between imagination and fantasy, and a rooted sense of reality.

5. Creative people trend to be both extroverted and introverted.

6. Creative people are humble and proud at the same time.

7. Creative people, to an extent, escape rigid gender role stereotyping.

8. Creative people are both rebellious and conservative.

9. Most creative people are very passionate about their work, yet they can be extremely objective about it as well.

10. Creative people’s openness and sensitivity often exposes them to suffering and pain, yet also to a great deal of enjoyment.

From Creativity: The Work and Lives of 91 Eminent People, by Mihaly Csikszentmihalyi, published by HarperCollins, 1996.

Analisis dan komentar Anda (personal bukan kelompok) boleh dalam bahasa Indonesia atau English.

Salam…

agus Nggermanto

Dibawah ini adalah komentar tentang ke-sepuluh paradoks:

Pada paradoks no.1, 2, 3, 4, 5, 6, 8 Mihaly mungkin berpikir bahwa tidak ada batasan sifat pada seseorang yang kreatif. Hal ini terlihat dari penjelasannya dimana orang kreatif berada di dalam dua dunia sekaligus dalam waktu bersamaan, sehingga menciptakan sebuah dunia parallel yang mampu menyatukan kedua dunia tersebut. Contohnya pada penjelasan dimana seorang yang kreatif berada pada alam extrovert dan introvertnya. Ini menjadi jelas bila kita melihat seorang yang kreatif sebagai jembatan yang menghubungkan antara pemikiran pribadinya (introvert) dengan lingkungan sekitar (extrovert) sehingga terjadi sinkronisasi pemikiran yang saling berkaitan. Orang kreatif mampu melahirkan sebuah jembatan yang menghubungkan kepentingan pribadi dan kepentingan masyarakat.

Pada paradoks no.7, Mihaly menyatakan bahwa seorang yang kreatif mampu menjadi diri sendiri juga seorang yang lepas dari lingkungan stereotype. Ini menyatakan bahwa orang yang kreatif mampu menciptakan kepribadian yang mandiri dan tidak terlahir dari sebuah jiplakan dari lingkungan namun berawal dari sebuah originalitas. Orang kreatif juga tidak melihat dunia secara stereotype, mereka tidak melihat dunia selayaknya hitam dan putih saja namun juga memandang sisi abu-abu yang berada di antaranya. Ini menjelaskan bahwa seorang yang kreatif mampu menemukan sesuatu yang baru tanpa mengkategorikan penemuannya dengan benda lainnya.

Pada paradoks ke 9, Mihaly menyatakan bahwa seorang yang kreatif mampu menjadikan passion-nya menjadi sebuah tujuan, sehingga passion yang bersifat pribadi tersebut mampu menjadi sebuah bentuk yang objektif, bukan subyektif. Ia mampu menemukan jalan untuk menuju passion-nya, tanpa harus meninggalkan hubungan emosi dengan lingkungannya.

Yang terakhir adalah paradoks ke 10, dimana seorang yang kreatif digambarkan mampu menjalani kesedihan dan kegembiraan bersamaan. Ini menyatakan bahwa seorang yang kreatif mampu menciptakan suasana yang optimis di setiap keadaan. Kesulitan bisa menjadi sebuah kemudahan, dan kesedihan mungkin menjadi kegembiraan. Orang-orang yang bisa meng-convert hal itulah yang dapat dikategorikan sebagai orang yang kreatif

Manggala/19006062

SBM-ITB

There are no dumb questions, only dumb answers

Marshall Loeb

Good night sound-speaker

Good night keyboard

Good night monitor

Good night mouse

Good night desk

Good night chair

Good night clock

Good night lamp

Good night world

Good night you

Good night…

Be careful when you fight the monster, lest you become one

-Friedrich Nietzsche-